Mogi, 10 Oktober 2019-24 Maret 2020, Rest In Peace

by - 9:30 AM


Dini hari saya terbangun ketika suami saya mengucap istighfar beberapa kali setelah membuka pintu kamar tidur menuju ruang tengah. Tanpa bisa dicegah, saya langsung siaga saat itu juga. Biasanya saat suami saya "ngucap2" kayak gitu adalah karena kucing di rumah sedang 'berulah: pup sembarangan.

Ternyata benar...
Setelah saya ikut keluar kamar, saya melihat pup kucing di setiap ruangan di rumah; dari ruang depan, ruang tengah, hingga area dapur. Saya kaget bukan kepalang karena kucing saya tidak pernah sebrutal ini ketika pup sembarangan. Maksud saya, kalaupun kucing di rumah lagi nakal dan pup bukan di litter box, mereka cuma pup di satu lokasi saja.

Saya nggak banyak berfikir dan langsung memungut pup kucing yang "solid" dan mengelap pup berbentuk cairan dengan tisu. Saya membersihkan semuanya sambil berfikir keras dan mengingat-ingat apa yang kucing saya makan kemarin dan dimana kucing-kucing itu berada sekarang.

...

Kami punya 3 ekor kucing. Saya masih ingat betul, tanggal 10 Oktober 2019 malam, saya dan suami baru pulang ke rumah sehabis Isya. Tidak ada yang aneh di rumah, semuanya sama: sepi, gak ada orang. Ketika saya masuk ke rumah, saya melirik ke arah kamar depan yang pintunya terbuka. Tidak ada yang tidak biasa, karena kamar itu memang selalu terbuka pintunya. Tapi yang membuat saya terkejut adalah pintu lemari kayu tua yang sudah terbuka lebar, salah satu keranjang yang berisi pakaian dalam terlempar ke luar lemari, dan terdengar bunyi meong yang lirih.

Saya langsung mendekati lemari dan terkejut.
"Babyy,,,, ada kucing melahirkan di lemari...!!!"
teriak saya ke suami yang baru selesai mengunci mobil dan hendak memasuki rumah.
"Hah...????!!!!"
Suami saya tidak percaya dan segera masuk ke kamar di mana saya sudah berjongkok dan mengelus-elus perut kucing betina yang sepertinya baru selesai melahirkan beberapa jam yang lalu.

Suami saya tidak suka kucing. Buat dia, kucing itu bikin geli dan sakit kalau nyakar/gigit. Dia juga tidak suka bulu kucing yang bertebaran dimana-mana. Tapi entah kenapa, malam itu suami saya melunak. Dia membiarkan saya mengurus 5 anak kucing yang masih merah dan induk kucing  yang masih berdarah-darah. Saya mengikhlaskan satu sprei berwana hijau toska yang digunakan sebagai alas melahirkan si kucing, kemudian memisahkan beberapa lembar gorden yang ikut terkena cipratan darah dan memasukkannya ke dalam mesin cuci. Yah, setidaknya barang-barang lain tetap aman. 


Suami saya dengan mogi dan googi beberapa bulan kemudian

Mungkin teman-teman bingung, kok bisa sih kucing masuk ke rumah saya dan numpang melahirkan di lemari?
Jadi gini, rumah saya memiliki tempat jemur pakaian di bagian atas dapur yang setengah terbuka. Kami membuat dinding keliling sekitar 80cm dan memberikan pagar dari besi yang berlubang (Bentuknya bisa dilihat di gambar di bawah ya). Karena itulah, rumah saya sering kedatangan beberapa binatang liar dari luar rumah. Yang masih saya ingat, "tamu rutin" rumah kami adalah kadal dan kucing liar yang beberapa kali dalam satu minggu. So, bukan sesuatu yang mengherankan jika suatu saat saya kedatangan tamu kucing yang numpang lahiran di rumah saya. Hanya saja, saya cukup takjub ketika momen seperti itu benar-benar terjadi. It was beyond my imagination: I was on cloud nine.


mogi dan googi lagi main di pagar keliling lantai atas


Fast forward.
Kami akhirnya mengadopsi satu keluarga kucing tersebut: 1 induk betina dan 5 ekor kitten. Namun 2 kitten mati entah kenapa dan dua jasad kitten itu pasti hilang tanpa bekas. Mungkin dikubur induknya, atau lebih buruk: dimakan gitu aja. I don't know and i don't want to know.  


3 kitten aka anak kucing sisanya menemani hari-hari kami, terutama di malam hari setelah kami pulang kerja dan di akhir pekan. Mereka seperti anak-anak kami sendiri, karena itu kami (atas inisiatif saya) menamai mereka: Momo, Mogi, Googi. Seiring dengan semakin besar anak-anak kucing itu, induk betina mereka pergi dan tak pulang ke rumah. Saya nggak protes apa-apa, justru saya bersyukur karena saya jadi punya banyak teman di rumah terutama ketika suami saya harus pergi ke luar kota.

3 ekor meong lagi akur
Mengurus 3 anak kucing tidak mudah tapi juga bukan pekerjaan sulit. Saya cukup menyediakan makanan dan minuman di sebuah kotak dan tidak lupa litter box yang berisi pasir gumpal untuk basic need mereka. Selain itu, mereka bisa mengurus diri mereka sendiri: tidur dan membersihkan diri. Oya, saya juga sudh melatih mereka mandi (dengan air hangat dan sabun) di usia kurang lebih 5 minggu. Jadi mereka tumbuh menjadi kucing yang mandi-friendly :D.

Momo dan Googi
Googi yang nggak bisa melepaskan diri dari kresek bath&body works
Hal menarik saat memperhatikan kucing peliharaan saya adalah kucing-kucing ini bisa sangat clingy dengan manusia. Mereka bahkan sering mengeong di depan pintu kamar mandi (bahkan pernah mendobrak masuk saat pintu kamar mandi tidak saya kunci) ketika saya sedang mandi atau buang air. They are literally like your human babies.

Mogi nemenin suami saya yang lagi sakit

Dua dari tiga kucing saya juga merupakan Pemburu yang cerdas! Mogi si pemberani, selalu berhasil membuat saya kaget karena dia bisa menangkap tikus kecil dan memakannya sampai habis di usia kurang lebih 3 bulan. Mogi juga beberapa kali membawa kadal hasil buruannya ke dalam rumah, seolah-olah ingin menunjukkan ke saya bahwa dia memang kucing pemburu. Googi? Saya rasa Googi adalah kucing yang iri dengan prestasi Mogi. Karena itulah suatu ketika kucing berbulu putih ini berhasil membawa kadal liar ke dalam rumah dan "bermain-main" dengan kadal di ruang depan sampai kadal itu mati. Seperginya saat itu Googi ingin menunjukkan ke saya kalau dia juga pandai berburu. Momo, satu-satunya kucing betina, tumbuh jadi kucing yang kalem dan menerima makanan apapun yang saya sediakan di rumah. They are so adorable and i love them.


nemenin bobok siang waktu saya lagi sakit
...
 

"Meong...."
Saya kembali tersadar dari lamunan saat Googi mengeong-ngeong tidak sabar di dekat kaki saat saya mengepel semua lantai rumah. Saya saat itu sudah sampai ruangan tengah. Ketika saya akan mengepel di bagian bawah lemari TV, saya kaget setengah mati karena melihat sesuatu berwarna hitam di bagian bawah. 


Pikiran saya bergerak liar tak terkendali.
Kain apa yang nampak seperti mantel berbulu warna hitam ini?
Kenapa basah dan kotor?
Tak lama kemudian saya sadar. Saya tau itu apa. Lutut saya lemas. Sambil berpegangan di alat pel yang basah, saya berteriak lirih ke suami saya yang sedang di kamar mandi.
"Babyyy... Mogi matiii...."
Suami saya membuka pintu kamar mandi.
Saya langsung menunjuk ke jasad Mogi, si kucing berbulu hitam di bagian punggung dan berbulu putih di bagian leher sampai perut.
"Baby, Mogi mati..." saya berusaha untuk tidak menangis dan di waktu yang sama mempercepat pekerjaan saya mengepel rumah.


Mogi
Suami saya juga ikut bertanya-tanya kenapa Mogi bisa tiba-tiba mati begitu saja. Padahal tadi malam Mogi masih tidur di atas bantal persegi berwarna merah di bawah meja kerja.

Saya meminta ke suami agar setelah sholat subuh bisa menggali lubang untuk mengubur Mogi di samping rumah, dekat dengan tanaman bidara yang sudah hampir melebihi tinggi badan saya. Saya lalu sholat subuh dan segera setelahnya saya mengenakan pakaian dan kerudung untuk menutupi aurat karena saya harus mengubur Mogi subuh itu juga.

Saat suami saya sedang menggali lubang di sampung rumah dengan alat seadanya, saya berjongkok di depan jasad kucing kecil kesayangan kami yang baru berusia 5 bulan. Saya memaksa kedua tangan saya yang terbungkus plastik hitam untuk menyentuh Mogi, yang ternyata basah kuyup dan sudah kaku di beberapa bagian tubuh. 


Mogi

Saat itu air mata tumpah ruah begitu saja tanpa bisa saya tahan. Googi yang masih mengeong lirih di samping saya pun ikut melihat saya menangis tersedu-sedu dengan jasad kucing kecil di kedua tangan saya. Sedangkan Momo, kucing saya yang lain, masih belum kelihatan ada di mana. Saya tidak bisa menggambarkan bagaimana hati saya terasa sakit luar biasa karena kucing saya sudah tidak ada lagi di dunia bersama saya. Memori 5 bulan ke belakang bersama Si Mogi kecil pun membanjiri pikiran saya.

Saya membawa jasad kucing ke luar rumah dengan air mata yang masih mengalir tanpa henti di pipi. Udara dingin, hari yang masih gelap, dan sepinya perumahan kami saat itu menjadikan momen pagi itu semakin kelam. Saya lalu berjongkok di samping suami saya yang sudah hampir menyelesaikan lubang tempat kami akan mengubur Mogi. Kami tidak terlalu banyak bicara. Segera setelah lubang siap, saya meletakkan jasad Mogi ke bagian dasar lubang, lagi-lagi dengan air mata dan isak tangis tertahan. Upacara penguburan Mogi berjalan dalam diam dan berlangsung cepat. Tidak ada bunga atau sesi foto-foto.

Kami kembali ke rumah tanpa bicara. Sunyi.
Saya menenggelamkan diri dalam pelukan suami,
melepaskan sesak yang menggelayut sejak tadi.


Mogi
10 Oktober 2019-24 Maret 2020
Rest In Peace


Googi-Momo-Mogi

Your Cat Person, 
Susie Ncuss

You May Also Like

2 comments

  1. Ikut sedih baca kisah kepergian si Mogi ...
    Tabah ya, kak.

    Memang betul kalau kita sudah punya keterikatan batin dekat dengan peliharaan kesayangan,dia seperti tau kebiasaan atau cara2 yang dikerjakan kita.
    Mereka bisa ikut2 mempraktekannya.

    ReplyDelete

InsyaAllah saya selalu berkunjung ke blog para pengunjung yang sudah meninggalkan komentar di blog saya. Tapi tolong jangan sebar link hidup di komentar ya karena auto click spam ^^

Follow me on Instagram: @susiencuss_