Pantai Siung, Gunung Kidul: Horor Dan Tragedi

Posting Komentar
Pantai Siung: Horor Dan Tragedi. Saya dan suami berangkat dari Bandung ke Jogja naik bus Kramat Jati. Kami ke sana dalam rangka milad kedua sebuah komunitas fotografi yang bernama ToekangPoto. Komunitas ini berdiri setelah bencana merapi melanda Yogyakarta. Pada momen itu beberapa orang dengan minat fotografi bertemu dan sepakat mendirikan sebuah komunitas fotografi. Komunitas ini juga sebuah wadah bagi mereka yang ingin belajar fotografi tanpa harus memotret model wanita dengan baju-baju seksi.

Bus berangkat jam 18.35 WIB tapi karena sebuah kesalahan teknis yang sangat tidak profesional bus balik lagi ke poolnya setelah sampai di BIP. 1 jam terbuang percuma. Bus itu seharusnya sampai di jogja sekitar jam 5 subuh tanggal 28 April tapi karena kesalahan tadi dan macet di sudut jawa barat, bus baru berhenti di Sekitar Prambanan jam setengah 8.

Situs Candi Ratu Boko

Kami naik ojeg ke rumah saudara yang tinggal di Tlogo lor, tepat di samping kawasan wisata Candi Prambanan. Tak berapa lama setelah mandi dan pamitan, kami lalu main ke situs Ratu Boko. 

Cara Menuju Ratu Baku dari Prambanan 

Sebenarnya cukup naik angkot berwarna kuning dengan ongkos Rp2000. Tapi kami waktu itu ingin mencoba naik becak motor, biayanya Rp10 rb. 

Tiket masuk ke Ratu Boko adalah Rp25 rb/orang. Setiap turis mendapatkan kain batik seperti di Candi Prambanan waktu mau masuk dan sebotol kecil air mineral. 
Di Ratu Boko sangat panas, jadi jangan lupa bawa topi ya..
 
ratu boko prambanan yogya
Ratuboko, yang kembali ngehits gara-gara Rangga-Cinta
Dari Ratuboko kami menuju Benteng Vredeberg dan mengujungi museum-museum di sana. Museum ini lah yang membuat saya jatuh cinta pada sejarah.

Pasar Beringharjo, Yogyakarta

Keesokan pagi, kami sudah bersiap dari ba’da subuh. Jam 6 kami berangkat ke tempat di dekat Condong Catur naik Transjogja. Lalu kami berangkat bareng mas Yan Zhuko dan Mas Yudi yang baru mendarat dari Kalimantan tadi malam ke rumah peristirahatan di daerah Pogung. Di sana teman-teman dari komunitas ToekangPoto sudah berdatangan dari berbagai sudut indonesia: Jakarta, Bogor, Bekasi, Bandung, Jogja (yaiyalahh..), dll. 

Setelah semua personil selesai bersih-bersih, kami berangkat menuju Pasar Beringharjo untuk memotret dengan tema human interest. Ada 4 mobil yang konvoi ke pasar. Namun kami mengisi perut dulu dengan makan soto sapi di lantai 1 Pasar Beringharjo. Konon warung ini pernah didatangi oleh Pak Bondan di salah satu acara kuliner populer di indonesia. 

Menurut saya, rasanya biasa aja, hehe
 
warung makan didatangi pak bondan yogya
mbah yang (katanya) legendaris

 Siang hari, tepat ketika para ikhwan (laki-laki) sholat jumat, hujan turun membasahi kota Jogja. Kami para akhawat yang masih menunggu selesai sholat jumat terkurung di bangunan pasar. Lalu kami digiring oleh Mas Yan, sang juragan Pasar Beringharjo, untuk sholat di salah satu musholla pasar. 

Pantai Wedi Ombo Yang Eksotis

Setelah itu kami kembali masuk mobil masing-masing dan menuju Pantai Wedi Ombo. Dari jogja ke Pantai Wedi Ombo memakan waktu lebih dari  3 jam. Jalannya berkelok-kelok, melewati hutan, naik turun, melewati bukit, dll. 

Di pantai ini kami ingin memotret landscape sekaligus mengcapture sunset. Tapi apa mau dikata, hujan dan gerimis masih cukup deras di pantai. Kami harus berpuas diri utk memotret ombak dan karang…… dan memoto diri kami sendiri dengan spanduk kebanggaan, hehe

Hari sudah gelap ketika kami meninggalkan pantai dan segera menuju Pantai berikutnya dan sekaligus tempat menginap kami. Pantai Siung. 
Ah, mengetik nama pantai ini memberikan sebuah luka tersendiri.

Pantai Siung Yang Menyimpan Horor Dan Tragedi

Rumah kami menginap tepat berada di bibir pantai. Ketika kami sampai di sana sudah gelap dan ada beberapa kunang-kunang yang menghampiri kami. Kalau nggak ada orang, sebenarnya saya ingin mengejar kunang-kunang itu, hehehe. 

Penginapan kami ini diisi dengan personil lebih dari 25 orang dan hanya membayar 1 juta rupiah. Semuanya termasuk 4 kamar dan 1 aula untuk akhwat dan 3 kamar dan 1 aula untuk ikhwan beserta makan malam dan sarapan. Murah!

Jumat pagi, ba’da subuh. Kami semua sudah menenteng kamera dan berjalan ke pantai. Masing-masing sudah mencari lapak utk mengcapture langit dan suasana pantai saat matahari terbit. Saya dan suami menyempatkan diri ke sudut kanan pantai untuk berbicara tentang setting kamera dan komposisi foto. Not a romantic topic actually, haha. Tapi gapapa lah, lumayan… karena ada bonus foto berdua.

Tragedi pun menimpa kami…

Sekitar pukul setengah 8, ada kabar bahwa Kang Dudi sang suhu ToekangPoto terkena musibah: kameranya terguyur ombak di karang di sudut kiri pantai. Tak hanya kamera, tapi seluruh tubuh beliau basah kuyup. Lengan kanan beliau juga ada goresan luka yang berdarah. Dari situ bisa sedikit dibayangkan bagaimana momen tragis itu terjadi. Kamera, lensa, dompet, tas, semuanya basah.

Saat itu ombak pantai memang sudah mulai mengganas, spot yang tadinya saya dan suami pakai untuk mengcapture langit ba’da subuh sudah tergenang air. Karang berukuran cukup besar di sebelah timur juga sudah mulai terendam setengahnya.

Kami menepi ke atas, duduk-duduk sambil mengerubungi gear-nya Kang Dudi yang dikeringkan di atas papan kayu. Dari situ kami diberi ilmu bahwa ketika kamera terguyur air laut atau air yang lain pertolongan pertama untuk kamera adalah segera diguyur dengan air tawar sebanyak-banyaknya. Lalu dikeringkan sambil diblower.

Tragedi Pantai Siung
sesaat sebelum tragedi. difoto oleh salah satu member

Setelah semua mulai tenang, kami mengadakan sesi terakhir foto bersama di bibir pantai. Posisi kami membelakangi laut. Prosesinya adalah spanduk besar milad ToekangPoto digelar, semua kamera dijejerkan di atasnya sesuai dengan agamanya: nikon di sebelah kiri dan canon di sebelah kanan (sudut pandang pemotret, red). Atau nikon di sebelah timur, canon di sebelah barat. Kamera jenis lain diletakkan di tengah. 

Setelah puas, giliran para akhwat yang difoto bareng semua kamera. Dari situ udah agak ga fokus tuh orang-orangnya. Ada yang sibuk liat hasil foto sebelumnya, ada juga yang sibuk setting kamera buat moto yang akhwat. Ada lagi yang sibuk ngobrol. Akhwatnya? Sibuk ngatur barisan. =P

Ketika foto sudah berlangsung beberapa sesi, ada sekian akhwat yang sedang difoto dan ikhwan yang memoto dari atas pantai yang sempat melihat gerakan arus air laut yang perlahan mendekati posisi kami. saya sendiri juga sempat melihat. Namun pada saat itu saya masih berfikir dan menimbang-nimbang:
Sampai ga ya ombaknya? Sampai ga ya?

Namun sebelum saya sempat memutuskan apa-apa, terdengar teriakan dari atas pantai dan kalangan akhwat di sekitar saya. Suasana berubah menjadi gaduh dan tidak terkendali. Mata saya nanar melihat arus air laut dengan kecepatan yang tidak terprediksi menggulung kamera yang masih tergeletak di atas spanduk. Langkah kaki saya tidak bisa mengejar arus air yang terlanjur melumat kamera. Saya juga tidak bisa membedakan mana kamera siapa. Saya hanya meraih kamera yang ada terdekat dengan saya, yang sayangnya sudah mandi air dan pasir. 

Yang lainnya? Saya tidak tau. Saya hanya bisa mendengar teriakan-teriakan histeris dan lafazh istighfar.

Saya kembali fokus dan mengecek kamera yang ada di tangan saya, itu si Nikey, si D60. Kamera legendaris suami saya yang telah diberikan ke saya sebagai ganti lensa wide yang saya berikan kepadanya. Dada saya sesak melihat kamera itu dan kamera-kamera lain. Dan saya hanya bisa diam ketika suami saya menghampiri saya. 

Kami semua buru-buru mencari air mineral dari warung-warung. Semua kamera yang menjadi korban ombak pantai siung kami mandikan dengan air sebanyak-banyaknya. Setelah itu dikeringkan dan diblower. Nikey juga dijemur di dekat tempurung kelapa milik penduduk. Saya dan suami jongkok di dekat Nikey dan memastikan dia terjemur dengan baik. Saya lalu berbalik ke suami saya dan berkata
“Kakak jangan sedih ya..”
“Gapapa, namanya juga musibah” katanya sembari menepuk2 kepala saya.

Huwaaa… pas kejadian mah saya biasa-biasa aja tapi sekarang saya jadi berkaca-kaca.

Usai kejadian itu, waktu menjadi terasa lambat. Penat juga mulai menggelayut di pundak-pundak kami. Tapi… selebrasi milad toekangpoto tetap harus berjalan sampai akhir. 

Destinasi berikutnya adalah Bukit Timang (atau Pantai ya? -___-“) lalu menyusuri Pantai Indrayanti, Drini, seujung, dst. Lalu kembali ke tempat peristirahatan di Pogung.

Bukit Wajak Singi, Magelang Jawa Tengah. 

Destinasi di pagi hari adalah bukit wajak singi, Magelang-Jawa Tengah. Kami berangkat pukul 04 kurang sekian menit. Saya hanya tidur dua jam waktu itu =D. 

Di bukit itu, kami mau memotret Candi Borobudur dari atas. Namun di sana kami harus menelan kecewa karena kabut tidak mau turun sehingga Borobudur hanya terlihat pucuknya saja. Ya sudahlah, berfoto-foto saja.

Setelah turun dari bukit, kami ke Kota Gede. Ke Makam para Raja lalu ke kota tua-nya. Andai kami sudah mandi di pagi harinya, mungkin panas yang menyengat bisa agak diminimalisir =)).

Ba’da dzuhur kami pulang ke Pogung dan bersih-bersih untuk pulang ke rumah masing-masing.

p.s
peristiwa terjadi tanggal 27-31 Maret 2013
susie ncuss
a Devoted Wife who is addicted to Traveling, Halal Food, and Good Movies.
Contact
Email: emailnyancuss@gmail.com
Click http://bit.ly/travelndate to chat me via whatsapp

Related Posts

Posting Komentar

Follow by Email