Touring Motor Bandung Ke Pantai Ujung Genteng #1

2 komentar
touring bandung ke pantai ujung genteng
Surade, Lokasi Pantai Ujung Genteng

Saya dan suami membuka tahun 2015 dengan touring motor dari Bandung ke Pantai Ujung Genteng, Sukabumi. Kami mengawalinya dengan tidur di awal waktu saat malam tahun baru. Kami nggak keganggu sama sekali dengan kembang api.

Trip ke Pantai Ujung Genteng ini sudah direncanakan sejak akhir tahun lalu. Saya malah udah siap2 buat ngajuin cuti demi touring ini. Tapi ternyata tempat kerja saya inih ngasih libur bersama dong… jarang-jarang banget! Alhamdulillah. Rencana kita fiks lanjut!

Fyi, Pantai Ujung Genteng ini letaknya di Sukabumi. Mungkin kalau cuman denger “Sukabumi”, orang2 mikirnya “ah, deket ini mah…” padahaaall… Ujung Genteng ini berada di sukabumi yang terletak di ujung dunia.
 

PERSIAPAN TOURING MOTOR BANDUNG KE PANTAI UJUNG GENTENG

Kamis, 1 Januari 2015
Pagi-pagi saya sibuk nyuci baju karena udah numpuk dan mengingat nanti waktu saya pulang touring saya bisa langsung beristirahat. 

Kami membawa motor Kawasaki Pulsar 200NS untuk touring kali ini. Motor ini sebelumnya sudah diservis di Kawasaki Jl Pajajaran Kota Bandung. Servis yang dijalani adalah ganti oli, pengecekan rem, dan pengecekan rutin lainnya.
Jika ingin touring, motor wajib dicek secara rutin di bengkel terlebih dahulu. Servis terakhir baiknya tidak boleh lebih dari 1 pekan. 
Jam setengah 10-an perlengkapan kami ditata di bagasi motor yang terletak di bagian belakang motor.
Daftar perlengkapan yang kami bawah untuk touring kali ini adalah
  1. Baju ganti utk 2 hari
  2. Sebotol kecil minyak kayu putih asli yang saya beli di Ambon
  3. Peralatan mandi
  4. Kaos kaki cadangan
  5. Jas hujan
  6. Jas hujan untuk sepatu
  7. Water bag yg setia nongkrong di punggungnya kakak
  8. Power bank (yg ternyata gak dipake, haha), berbagai colokan dan casan
  9. Kamera
  10. Gopro pinjeman

TOURING DARI BANDUNG KE SUKABUMI

Sekitar pukul 10.15 WIB, kami memulai touring ke Ujung Genteng. Kami mampir dulu di shell Jl. Pasteur Kota Bandung untuk mengisi bensin motor sampai fulltank. Lalu kami jalan nonstop dari Bandung sekitar jam setengah 11 sampai jam 12. 

Kami berhenti untuk shalat di masjid di pinggir jalan, tepatnya di wilayah Cianjur. Alhamdulillah masjidnya muslimah-friendly. Tempat shalat, toilet dan tempat wudhu dipisah dengan bagian bapak2. Kalau saya perhatikan sih, di Cianjur ini banyak masjid besar yang kondusif utk kita para muslimah ketje. Letak masjidnya juga strategis, di pinggir jalan.

Pukul 12.30 WIB kami melanjutkan perjalanan langsung ke sukabumi. Rencananya kami mampir di rumah Bulek yang letaknya di daerah Baros dan kebetulan rumahnya searah dengan perjalanan kami. Dan tentu saja kami ke sana sekalian silaturahim. Kami sempat makan siang dulu di RM Padang di sekitar situ, dan beli 2 kg mangga utk sogokan sekedar oleh-oleh buat bulek dan keluarga. Kami sampai rumah bulek sekitar jam setengah 3an. Kami istirahat dan numpang makan di sana sampai besok pagi.
 

TOURING DARI SUKABUMI KE UJUNG GENTENG

Jumat, 2 Januari 2015
Sebelum Subuh kami udah bangun, tapi sedikit malas-malasan karena enak juga tidur di kasur, Haha. Kami akhirnya bangun juga buat sholat subuh, mandi dan bersiap melanjutkan perjalanan. Sekitar jam setengah 7 pagi kami pamit ke Bulek.
Rute Touring Bandung Sukabumi selengkapnya adalah
Bandung (Pasteur)-Cimahi-Padalarang-Cipatat-Ciranjang-Ci… (entah ci-apa lagi itu)-Cianjur-Sukabumi-Baros-Jl. Pelabuhan 2 (searah dengan Jalan menuju Pelabuhan Ratu)-tembus ke Panggeleseran-ambil kiri terus ke arah Bojong Lopang-Lengkong-Jampang Kulon-Surade.

Jarak dari Kota Sukabumi-Surade ini >125 km. Nah, ini adalah touring motor yang sesungguhnya. hehe.

Dari Kota Sukabumi, kami berhenti sejenak di depan Pom Bensin Pertamina, yang letaknya di jalan yang konturnya menanjak. Dari Pom Bensin inilah, track touring menjadi tidak ramah untuk perut dan pinggang. Jalan rusak hingga kecepatan motor yang tadinya 40-50 km/jam merosot tajam menjadi 12-15 km/jam saja. Saya banyak-banyak tahan napas karena jalan yang ajrut2an begini bikin saya sakit perut. Analisa saya, jalan di sini rusak karena banyak truk dari pabrik yang beroperasi di jalan inih.

Rute Touring Bandung Sukabumi
penampakan jalan jelek
Jalan yang jelek ini berselang-seling dengan jalan yang cukup bagus, tapi didominasi dengan jalan jelek hingga ketemu Jalan Provinsi (saya tau status jalannya itu Jalan provinsi karena ada plang-nya). Klo udah sampai jalan provinsi ini, maka jalannya sudah bagus. Meski tetap ada sedikit ruas jalan yang kondisinya jelek. Di sinilah kecepatan motor jadi normal kembali di 30-50 km/jam.

Sekitar jam setengah 9, gerimis mulai melanda. Tapi kami masih tahan untuk terus melaju di atas motor karena gerimisnya masih bisa ditolerir. Tapi lama-lama gerimisnya makin deras, jadi kami nyari musholla buat make jas hujan, sekalian mau pip*s karena udaranya sudah mulai dingin. 10-15 menit kemudian kami kembali menerabas jalan. 
Gerimis mulai mereda, tapi ketika kami memasuki daerah Lengkong-Jampang Kulon, hujan deras dan angin cukup besar datang menyapa kami. 
Karena mengedepankan keamanan, kami lalu melipir ke depan indomar*t untuk berteduh dan menunggu hujan agak reda atau minimal angin kencangnya hilang. Beberapa menit kemudian kami memutuskan pergi dari situ karena perjalanan sudah mulai mendekati titik akhir. Tidak sampai 40 km lagi, haha.

Rute Touring Bandung Sukabumi
hujan besar
Alhamdulillah jalanan setelahnya cukup mulus sehingga perjalanan tidak terasa berat meski diguyur hujan deras. Ketika sudah sampai Surade, berarti sudah mulai somplak pinggangnya, Hahaha. Dan artinya sebentar lagi bakalan sampai Ujung Genteng. Kata bapak2 yang kami tanya: lurus aja, jangan belok-belok, sampai mentok ketemu laut. 

SAMPAI DI PANTAI UJUNG GENTENG

Saya bersorak gembira ketika melihat gerbang yg ada tulisan Ujung Genteng. Di sini juga saya agak-agak khawatir sama biaya retribusi mengingat kisah pahit di Waduk Jatiluhur beberapa waktu yg lalu.
“8 **** ribu pak…”
Heh? 8 ribu atau 80rb? Masa’ sih 8 rb? Murah amat. Tapi klo 80rb kebangetan amat mahalnya… LOL.

Setelah menanyakan kembali ke petugas di loket, Alhamdulillah ternyata retribusi utk masuk ke kawasan Ujung Genteng itu memang cuman Rp8.000,-. Hidup Ujung Genteng! Haha. Saya gak sempat liat list harga untuk mobil, karena posisinya masih hujan deras dan saya udah pingin nyari penginapan.

PETUALANGAN MENCARI PENGINAPAN

kami melaju kembali dengan tujuan mencari penginapan. Kami lihat beberapa papan penginapan di jalan-jalan. 

TIPS! Jika kamu melihat petunjuk penginapan sebelum melihat laut, jangan ikuti petunjuk itu! Karena jalannya asli jelek banget. Mending kalian tunggu sampai ketemu laut, lalu ikuti saja jalan yang sudah dibuat. Jalannya lebih baik, meski tidak mulus.
Kalau kalian membiasakan riset aka searching sebelum pergi ke suatu tempat, maka yang paling difavoritkan dan direkomendasikan oleh para pengunjung Ujung Genteng adalah Pondok Hexa. Kalau kalian punya banyak budget sih silakan pesan di sana. Karena menurut info dari resepsionis, harga kamar non-AC adalah Rp350.000,-. Mungkin karena lagi peak season ya harganya segitu, tapi saya yakin ada penginapan yang harganya lebih masuk akal.

Kami keluar dari komplek Pondok Hexa dan saya meminta suami untuk masuk ke Mama’s Losmen yang letaknya di samping Pondok Hexa. Alhamdulillah, kami dapat kamar AC dengan harga 250rb (Harga normalnya sih 350rb, tapi kami nawar. hehehe). 

Memang ada beberapa kekurangan di Mama's Losmen dari segi kamar, misalnya ada sedikit bocor di pojok kamar. Tapi saya rasa dengan harga segitu itu sudah sangat worth it. Ditambah lagi, pengurus losmen yang sangat ramah dan memberi kami air panas dalam termos, lengkap dengan gelas, teh, dan gula. Motor kami juga diberi tempat parkir “VIP” agar tidak kehujanan. Mungkin ini karena si kakak ngajak ngobrol bapak pengurus losmen pake Bahasa sunda. Hehe.
Tips Lain! Pedekate ke penjaga losmen dengan Bahasa Sunda, siapa tahu bisa dapat privilege.
Mama's losmen di ujung genteng
penginapan kami
rekomendasi penginapan di ujung genteng
depan kamar kami
Jam 11.40an, kami sudah bisa meluruskan punggung dan pinggang di kasur sembari menanti adzan dzuhur. Ba’da shalat, saya nyari makan siang di depan penginapan. 

Karena suasananya masih hujan, jadi saya malas jalan agak jauh untuk nyari makan. Saya pesan mi rebus untuk berdua (suami saya 2 bungkus mi dalam 1 mangkuk), dengan harga total Rp 15.000,-. Alhamdulillah penjualnya juga bisa kirim pesanan ke kamar. Jadi setelah saya bayar, saya langsung ngacir ke kamar. Tidak berapa lama makan siang datang, kami langsung makan. Abis itu ngegoler di kasur, sambil ngecas hp, dan dengerin lagu. 

Kami memutuskan untuk istirahat saja siang itu karena percuma jika mau memaksakan diri keluar, masih hujan deras.

Januari 2015
susie ncuss
a Devoted Wife who is addicted to Traveling, Food, and Good Movies.
Contact
email: emailnyancuss@gmail.com
click http://bit.ly/travelndate to chat me via whatsapp 

Related Posts

2 komentar

  1. Horee.. Selamat atas rumah barunya teh, semoga makin rajin nulisnya ya hehe. duh komennya out of topic :))

    BalasHapus

Posting Komentar

Follow by Email