Kuliner Legendaris Bandung: Roti Bakar 234 Gang Kote Sejak Tahun 1970

by - 3:18 PM

"Teh Ncuss, kalau gak salah pernah beli Roti Bakar Gang Kote bukan?" kata teman saya setelah kami berwudhu untuk bersiap sholat dzuhur di bilik kamar mandi di kantor. 

Kamar mandi di kantor saya ada bagian khusus untuk wudhu, cermin yang telah hancur (hari ini sudah diganti yang baru, yey!) dan 2 toilet yang dipakai bergantian.  Di tempat ini para karyawan perempuan sering kali ngobrol-ngobrol santai, dari sekedar nanya makan di mana sampai bergosip kapan bonus cair. Sungguh berfaedah, bukan?

Saya yang sedang mengenakan kembali kaos kaki langsung berseru heboh: "Iyaa... itu gila enak buaaangett....."

Gara-gara pembicaraan sebentar di kamar mandi itu, yang awalnya membahas roti bakar akhirnya merambat ke martabak paling mahal yang pernah dimakan, saya jadi terbayang-bayang dengan kelezatan ajaib dari salah satu kuliner legendaris kota ini. Apa lagi kalau bukan Roti Bakar 234 Gang Kote Jalan Sudirman, Kota Bandung. 


Roti Bakar

Saya pertama kali tau soal roti bakar yang sudah melegenda di Kota Bandung ini adalah dari food vlogger bernama MGDalenaf. Setelah nonton videonya, saya langsung bikin daftar kuliner mana saja yang direkomendasikan oleh food vlogger itu. Buat apa coba? Kalau saya sih untuk saya datangi dan membuktikan kelezatannya: fakta atau mitos belaka. 

Beberapa minggu lalu, saya dan suami memutuskan menggunakan sepeda motor untuk pulang dan pergi ke kantor. Di perjalanan pulang, kami memilih melewati Jalan Sudirman yang nantinya akan membawa kami ke Jalan Holis di sebelah kiri. Saat kami melewati Jalan Sudirman saya merasa ada yang harus dilakukan tapi tidak ingat apa itu. Ketika saya melihat kepulan asap dan kerumunan orang di bagian kiri jalan, saat itu juga saya ingat apa yang saya inginkan dan menepuk pundak suami

"Kak, beli roti Gang Kote yok..."
"Kamu pengen roti?" tanya suami saya sambil melambatkan laju motor pulsar 200 NS berwarna merah ke bahu kiri jalan.
"Iya, penasaran banget!" kata saya.
Motor besar itu berhenti dan saya melompat ke trotoar berwarna abu-abu. Satu dua pasang mata sempat melirik saya saat itu (saya orangnya kadang-kadang aware banget sama sekitar, kadang-kadang...).
"Aku pokoknya mau yang asin" kata suami saya sambil mematikan mesin motor dengan memutar kunci.
Jika sudah ada kata "pokoknya" maka saya harus nurut meskipun saya pingin berontak dan pesan roti bakar cokelat :X.

Saya berjalan gontai dan mendekati salah satu karyawan roti bakar legendaris kota Bandung itu dan bertanya:
"Punten, Pak. Ini pesannya ke siapa ya?" 
Saya memilih memanggil dengan kata "Bapak" meskipun nampak seumuran dengan saya daripada "Mas/A' " yang bikin saya geli sendiri.
"Ke siapa aja boleh, teh"
Saya lalu menyebutkan pesanan "Roti Bakar Spesial Kornet Keju" setelah bergelut dengan pikiran untuk membelot dari titah suami. Padahal cuma mau beli Roti Bakar ya... --"


bapak-bapak yang saya tanya

Pergulatan pikiran saya saat itu juga disponsori dengan pricelist Roti Bakar 234 Gang Kote yang membuat jiwa raga tercengang. Teman-teman bisa liat sendiri di foto di bawah yang berisi daftar harga Roti Bakar Gang Kote lengkap dan terupdate. Kalau kalian nggak kaget atau setidaknya terkesiap barang 1 detik, saya tepuk tangan deh... *prok-prok-prok*


click to zoom

Saya menunggu pesanan roti bakar yang waktu itu harus antri 3-4 nomor (dan pengunjung terus datang tak peduli sudah mau maghrib dan gerimis rintik-rintik) sambil misuh-misuh dalam hati:
"Awas ya kalau rotinya nggak sesuai dengan harapan dan harga, saya bakalan tulis sejelas-jelasnya biar netijen tidak tertipu dengan label legendaris."


Yang beli rela nunggu di pinggir jalan
Saat itu saya juga takjub ketika melihat ukuran roti yang dimaksud oleh penjual roti bakar itu. Rotinya gede banget dan sangat tebal! Roti Biasa dan Special di daftar harga di atas bedanya adalah di ukuran rotinya. Roti biasa lebih kecil dan tipis daripada roti special dan berkulit (berwarna kecokelatan). Untuk roti Super sendiri saya kurang tau karena lupa nanya, hehe. 


sebesar ini porsinya
Dengan harga 40rb, saya mendapatkan dua tumpuk roti yang teksturnya lembut dan ginuk-ginuk ketika ditowel. 1 tumpuk roti berisi kornet dan 1 tumpuk roti lainnya berisi keju. Isian roti berupa kornet ditumpahkan tanpa rasa ampun oleh bapak penjual roti bakar, begitu juga dengan keju slice yang ditumpuk hingga tiga lapis. Gila ya, pantesan rotinya mahal :))

isi kornet yang melimpah

Keju Slice yang berlapis...
Setelah 5-6 menit menanti, saya membawa 1 plastik roti bakar yang sudah dipotong-potong ke suami yang menunggu di atas motor. Saya menyarankan untuk segera menyantap roti itu di pinggir jalan Sudirman agar kami bisa menilai dengan lebih objektif rasa roti ini. 

Saya langsung buka semua bungkusan dan menyomot satu potong roti isi kornet dan menggigitnya sambil jongkok di trotoar (suami saya ngunyah di atas motor). Begitu gigitan pertama, saya langsung pandang-pandangan sama suami kayak adegan sinetron picisan. Kami berkomunikasi secara non verbal dan segera setelah itu kita sama-sama bilang 
"Wah gila sih ini rotinya memang enak"
"Iya, ini yang bikin enak memang rotinya. wah, gila... gak nyesel sih bayar 40rb"

Roti Bakar ini memang enaknya kebangetan dan nggak manusiawi. Bahkan kalau saya makan rotinya doang nggak pake keju, cokelat atau perhiasan dunia yang lain, saya akan tetap tergila-gila! 


Roti Bakar 234 Gang Kote is a real masterpiece dan roti bakar yang hakiki.

Fyi, Rasa roti bakar ini tetap terjaga bahkan ketika kami sudah sampai rumah, sholat maghrib dan leyeh-leyeh sambil nonton film. Waktu tempuh dari lokasi Roti Bakar ke Rumah saya kira-kira 1 jam.

Menurut saya yang membuat roti ini terjaga kualitasnya adalah roti yang dipakai adalah buatan sendiri sehingga selalu fresh dan dibakar di atas arang yang membara. Wanginya itu lho yang bikin terhipnotis.


Penampakan roti 234 yang bikin sendiri :9

Sedikit menyinggung sejarah, Roti ini sudah terkenal sejak tahun 1970an dengan nama Roti 555. Pada tahun 1989, pemilik usaha mengubah mereknya menjadi Roti 234. Saat itu pemilik mengubah namanya karena memulai memproduksi roti sendiri, tidak lagi membeli di pabrik roti 555. Mantab sekali, Ferguso!


Nilai dari saya
Ambiance : 7
Service: 8
Rasa makanan: 9
Harga: Mahal tapi worth to buy!
Repurchase: Yes XD

You May Also Like

10 comments

  1. Woa pantesan mahal ya teh, tapi aku dan suami tipe malas ngantri apalagi sesuatu yang mahal hahahha mungkin ngga semua ya tapi ini bikin penasaran banget lho, klo di Cimahi yang terkenal nya roti Djiseng

    ReplyDelete
  2. wah aku barutau niiih.. worth trying ini mah

    ReplyDelete
  3. Aku penasaran Ncuuss, coz pecinta roti bakar euy. Meski mahal kayanya berbanding lurus dengan rasa yang pernah ada yaa, Kabitaaa!! Gopuud!!

    ReplyDelete
  4. Wagelaseh itu kornetnya banyak pisan, satu roti satu kaleng kornet mereun ya teh. Hahaha.
    Ah pokoknya mau juga nyobain 😂

    ReplyDelete
  5. Sering denger kelezatan roti bakar di sini,tapi belum pernah coba. Semoga segera ada agenda ke sana.

    ReplyDelete
  6. Mauuu gak papalah mahal dikit kalau emang enak

    ReplyDelete
  7. wah harus dicoba nih (bari nginget gang Kote tuh dimana ya) :D :D

    ReplyDelete
  8. Mauuu...
    Aku suka banget sama makanan manis.

    Hihi..dan kalau rotinya ginuk-ginuk...pasti worth to buy yaa...

    ReplyDelete
  9. Sayangnya dia nggak menyediakan tempat yang nyaman ya, kak?

    Kan enak tuh, makan roti sambil ngopi terus ngeblog :)

    ReplyDelete

InsyaAllah saya selalu berkunjung ke blog para pengunjung yang sudah meninggalkan komentar di blog saya. Tapi tolong jangan sebar link hidup di komentar ya karena auto click spam ^^

Follow me on Instagram: @susiencuss_