Tahun Baru dan Resolusi Yang (Bukan) Basa-Basi

by - 9:00 AM


Tahun ini saya awali dengan kegagalan, tepat pada tanggal 1 Januari.
Yaelah, padahal 2019 baru mulai, Maemunah... hahaha.

Langkah besar yang saya dan suami lakukan akhir tahun lalu ternyata tidak berbuah dengan keberhasilan seperti yang kami inginkan. 


Saya sendiri lebih suka menyebut “kegagalan” dengan “ikhtiar yang tidak tersambung pada takdir”. Dengan mengubah sudut pandang, saya jadi lebih mudah untuk menerimanya dan menganggapnya sebagai sesuatu yang natural: semua orang pernah mengalaminya.

Saya sebenarnya bukan termasuk orang yang kompetitif bahkan cenderung tidak menikmati lomba dan sejenisnya. Tapi bukan berarti saya jarang terpapar dengan gagal dan kalah. Setidaknya saya pernah mencicipi gagal dalam mencapai goals yang pernah saya buat.

Dulu, saat saya masih muda belia (baca: masih kuliah dan cupu) saya gemar membuat daftar resolusi. Tapi akhirnya resolusi itu hanya sekedar basa-basi ritual akhir/awal tahun saja. Semakin banyak saya berinteraksi dengan diri sendiri dan juga fakta brutal tentang kehidupan, beberapa tahun ke belakang saya cenderung sinis dengan daftar resolusi dan lebih suka langsung take action: Jangan banyak bacot lah, lakuin aja. *maafkan bahasa yang rada preman XD

Tahun 2018 lalu saya nggak punya resolusi apa-apa. Tapi ternyata di tahun tersebut saya malah mengalami sebuah fase yang sangat penting dalam hidup saya, yaitu Brainwashing pada pengetahuan keuangan yang ternyata NOL BESAR. Usia saya sudah di akhir 20an tapi financial literacy-nya kalah jauh dengan mahasiswa jaman now -__-"


Proses ini diawali dengan mengikuti akun salah satu financial advisor di Indonesia. Proses cuci otak ini tidak dipengaruhi orang lain, saya murni menjalaninya atas kesadaran pribadi. Waktu itu saya merasakan betul bagaimana kuatnya tekad seseorang untuk belajar jika didorong oleh motivasi dari dalam diri sendiri. Brainwashing mandiri dilanjutkan dengan membaca buku Rich Dad Poor Dad yang ditulis Robert T Kiyosaki yang saya lahap dalam waktu 1 hari saja. Buku yg ditulis om Robert itu seperti lilin dan kemauan saya untuk membacanya adalah api yang menyalakan sebatang lilin itu untuk menerangi kegelapan. Ya ampun, lebay banget sih... tapi faktanya memang begitu ya. Terserah kalian mau bilang apa, hehe :p

1 tahun itu saya banyak mendapatkan paparan informasi mengenai finansial dan juga hidup minimalis, dan puncaknya di kuarter 4 tahun 2018, saya cukup agresif untuk mencari informasi lebih banyak mengenai dua hal tersebut. 


Sekian banyak input yang saya dapatkan selama 1 tahun membantu saya untuk melihat lebih jelas apa sebenarnya yang saya inginkan di dunia yang bisa nyambung dengan apa yang saya menjadi tujuan akhir saya di akhirat (yang tentu saja sudah jelas sekali).

Goals tahun 2019 ini nggak lebih dari 5, tapi saya sharing 2 saja di sini :D

  • Memulai hidup minimalis
Saya sudah mulai dengan memilah pakaian yang menimbulkan spark joy ala Marie Kondo buat saya di tanggal 31 Desember 2018. Saya juga meng-combine-nya dengan metode Capsule Wardrobe dari bemorewithless.com. Tanggal 1 Januari capsule wardrobe itu sudah resmi saya gunakan untuk sehari-hari.


  • Baca buku tentang investasi (dengan sungguh-sungguh)!
Tanggal 1 Januari, ketika “ikhtiar yang tidak tersambung pada takdir” itu menjadi fakta yang tidak terelakkan, saya malah menjalani hari itu dengan tenang dan rileks. Hari itu benar-benar tidak ada episode bengong, tidak ada episode makan berlebihan, tidak ada drama.

Saya merayakan kegagalan pembuka tahun ini dengan beres-beres rumah (lagi) dan membaca ebook The Intelligent Investor Benjamin Graham selama dua jam. Buku berbahasa inggris ini adalah salah satu buku yang harus saya habiskan maksimal sampai Juni 2019. Pusing sih baca buku itu, karena banyak banget istilah yang nggak saya ngerti dan full bahasa apalagi di depan layar laptop yang penuh radiasi. Tapi ternyata setelah dipaksakan, ada keasyikan tersendiri ketika saya bisa paham dengan apa yang saya baca dan menemukan selipan humor penulis di tiap halaman buku.
 

...
Beberapa hal yang kembali saya ingat pada tanggal 1 Januari 2019 itu adalah:

1. Failure doesn't mean the game is over. I am still young and ready to try again with a new experience.

2. Goals besar yang sudah saya buat ternyata juga membuat saya tidak terdistract dengan mudah ketika saya mendapati rintangan (besar atau kecil) di tengah jalan atau situasi di mana saya menjadi pihak yang kalah. Saya tetap fokus ke goals yang sudah saya buat di awal, karena sekarang resolusi itu bukan lagi sebuah basa-basi.

You May Also Like

13 comments

  1. Betul, resolusi sekarang jangan basa basi aja, tapi realita. Mudah2an tercapai resolusinya

    ReplyDelete
  2. Setuju Teh, udah lama ngga bikin resolusi, cuma pengen ngapain aja di 2019 Alhamdulillahbterlaksana, ngaji, baca buku, zumba, beberes, menulis n melukis pokoknya ingin spark joy dengan hal sederhana gitu deh, semangat

    ReplyDelete
  3. Resolusinya bagus banget, teh. Semoga bisa menjalani resolusi itu dengan lancar hingga menjadi gaya hidup. Amin :)

    ReplyDelete
  4. Mantaap~
    Beneran ini teh...resolusi kerasa pas dibuat dan di bulan awal-awal.
    Begitu makin jalan, makin jenud dan mengalami banyak pemakluman.

    Jadi gemeessh...
    Semoga Allah mudahkan azzam kita untuk senantiasa jadi lebih baik.

    ReplyDelete
  5. Nah iya nih..pengetahuan soal literasi keuangan penting banget..sy jg msh minim banget..beberapa teori udah saya ketahui tp prakteknya msh susah haha

    ReplyDelete
  6. Coba baca bukunya Creative Junkies nya Yoris Sebastian. Asik banget. Tiap hari ga ada istilah bengong lagi. Otak kita diasah untuk ngelakuin sesuatuuuu terus. Semangat, ya!

    ReplyDelete
  7. Keren pisan ini resolusinya teh, aku juga lagi berusaha untuk nggak terdistract sama hal apapun nih buat menuju goals terbesar. Semangat ya teh buat kita semua, semoga tercapai semua resolusinya. Aamiin.

    ReplyDelete
  8. baca buku tentang investasi, qiqiqiq.. kereen.. cemunguuud

    ReplyDelete
  9. "ikhtiar yang tidak tersambung pada takdir" ncusssss... makasih ya udah ngenalin aku sama istilah ini... jadi agak lebih lega mengikhlaskan sesuatu..

    ReplyDelete
  10. Waktu kemarin nulis resolusi saya juga banyak nahan diri. Eit, entar dulu, ukur kemampuan dulu. Biar nggak jadi resolusi basa-basi hehe

    Semangat capai resolusinya, Teh :)

    ReplyDelete
  11. Waktu kuliah saya juga rajiiin banget nulis resolusi, Teh. Tapi kalau saya baca lagi ternyata tanpa sadar banyak resolusi yang diwujudkan mesti bertahun-tahun kemudian.

    ReplyDelete

InsyaAllah saya selalu berkunjung ke blog para pengunjung yang sudah meninggalkan komentar di blog saya. Tapi tolong jangan sebar link hidup di komentar ya karena auto click spam ^^

Follow me on Instagram: @susiencuss_