Satu Hari Di Palembang Ke Mana Aja? (Plus Pempek Enak Murah Meriah Di Palembang)

by - 9:30 AM

Udah bulan Februari 2020 aja ya. Time flies too fast and i grow older every day :D. Di tulisan ini saya mau cerita mengenai perjalanan saya ke Palembang akhir tahun 2019 lalu. Sila dibaca sampai akhir :D

Saya pergi ke Palembang dalam rangka business trip. Jadi menurut saya tulisan ini bakalan cocok banget buat teman2 yang bernasib sama dengan saya: harus kerja dengan jadwal super padat tapi tetap ingin melihat landmark atau tempat wisata di kota tujuan.



Agenda Utama Di Palembang
Saya sampai di Bandara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin II, Palembang di Hari Rabu siang. Tak lama, kami langsung dijemput oleh teman sekantor dan meluncur ke kantor cabang. Di kantor ngapain? Ya meeting dong sampe sore. Bahkan kami stay di kantor sampai abis sholat isya.

Di malam hari kami sempat main di Jembatan Ampera dan sekitarnya lalu tidur di hotel yang sudah dibook sebelumnya. Hari Kamis pagi kami meeting lagi dengan mitra sampai Dzuhur alias jam 12 siang. Sore harinya kami pulang ke Bandung via Jakarta.

Jadi main ke mana aja di sela-sela meeting, waktu tidur dan jadwal pulang?
Nah... meskipun badan capek dan rasanya ingin tidur saja karena memang beneran ngantuk, saya dan kawan-kawan sempat menikmati beberapa makanan khas Palembang dan berkunjung ke landmark terkenal di sana.

We didn't have time and privilige to stroll around to any strange or unusual places back then. So, i decided to enjoy what we had :D.

Sightseeing Jembatan Ampera Yang Warna-Warni Di Malam Hari

Saya dan kawan-kawan berkunjung ke tempat di mana kami bisa menikmati eloknya Jembatan Ampera sekitar pukul 19.30 WIB. Perjalanan dari kantor cabang ke lokasi sekitar 15 menit dengan menggunakan mobil.

Jembatan Ampera terletak di tengah-tengah kota Palembang, menghubungkan daerah Seberang Ulu dan Seberang Ilir yang dipisahkan oleh Sungai Musi. Jembatan dengan panjang 224 meter ini mulai dibangun pada Bulan April 1962.



Setelah saya baca-baca lagi di internet. Ternyata pada awalnya, jembatan ini dinamai Jembatan Bung Karno sebagai bentuk penghargaan kepada Presiden RI pertama (sumber: Djohan Hanafiah). Alasannya kenapa? karena Bung Karno secara sungguh-sungguh memperjuangkan keinginan warga Palembang, untuk memiliki sebuah jembatan di atas Sungai Musi untuk menghubungkan dua wilayah di Provinsi Sumatera Selatan di atas.

Peresmian pemakaian jembatan dilakukan pada tahun 1965 sekaligus untuk mengukuhkan nama Bung Karno sebagai nama jembatan. Namun setelah terjadi pergolakan politik pada tahun 1966, nama jembatan itu pun diubah menjadi Jembatan Ampera (Amanat Penderitaan Rakyat) karena gerakan anti-Soekarno sangat kuat saat itu. Sekitar tahun 2002, ada wacana untuk mengembalikan nama Bung Karno sebagai nama Jembatan Ampera ini. Tapi usulan ini tidak mendapat dukungan dari pemerintah dan sebagian masyarakat.

Kami menikmati Sungai Musi dan Jembatan Ampera di malam hari di Plaza Benteng Kuto Besak atau Plaza BKB yang merupakan salah satu spot terbaik untuk memotret jembatan ini.


Pelataran Benteng Kuto Besak (Plaza Benteng Kuto Besak)

Plaza Benteng Kuto Besak adalah ruang terbuka yang sangat luas dan selalu ramai dikunjungi oleh wisatawan dan warga lokal. Seperti namanya, plaza atau pelataran ini diapit benteng peninggalan zaman Belanda. Benteng Kuto Besar dibangun sejak tahun 1780 pada masa Sultan Mahmud Badaruddin I sampai Sultan Mahmud Badaruddin II yang berfungsi untuk melindungi Keraon Kuto Baru dan Keraton Kuto Lama. Benteng dengan panjang sekitar 288 m dan lebar 187 ini mengadopsi gaya arsitektur bangunan Perancis. 



Sekarang bagian dalam BKB digunakan sebagai kantor Komando Daerah Militer (KODAM) Sriwijaya. Karena itu untuk warga atau wisatawan biasa hanya bisa menikmati BKB dari luar saja.

Di Plaza BKB ini selalu ramai dikunjungi warga karena dilengkapi dengan pasar tumpah yang menjual berbagai macam makanan, minuman, hingga pakaian dan oleh-oleh khas Palembang. Tak hanya itu, di beberapa sudut plaza para pengunjung bisa membiarkan anak-anak untuk menikmati hiburan seperti wahana memancing bola, melukis, dan permainan lainnya.



Nah, saya juga menemukan restoran terapung (beneran terapung ya...) yang sangat menarik untuk dicoba. Sayangnya waktu itu saya sudah makan malam, jadi tidak mungkin memaksakan diri untuk makan lagi di sana. Restoran terapung ini adalah perahu nelayan yang dimodifikasi menjadi restoran atau rumah makan. Saya liat dari luar, space di bagian dalam cukup luas sehingga cukup nyaman untuk dijadikan tempat makan dan ngobrol.



Menikmati kuliner Tekwan, Model dan Empek-Empek
Saya tidak awam pada makanan khas Palembang karena rumah salah satu nenek saya terletak di daerah Pesisir Pantai Provinsi Lampung. Di sinilah saya mencicipi tekwan dan model untuk pertama kali. Saya kembali memakannya di Palembang untuk nostalgia masa kecil dan untuk me-refresh memori tentang rasa tekwan dan model di otak.



harganya 8rb
Enaknya di Palembang adalah kita tidak perlu repot pergi jauh untuk membeli tekwan, model, dan empek-empek. Semua jenis makanan tadi dijual di gerobak dan tersebar di segala penjuru. Saya bahkan makan tekwan dan model di samping kantor. Empek-empek juga "delivery order" karena tempat jualnya ada di samping kantor, haha.

Oleh-oleh Dari Palembang
Karena sudah sering jalan-jalan, saya tidak terlalu terobsesi untuk membeli oleh-oleh tertentu. Meskipun banyak sekali merek pempek terkenal di Palembang, saya nggak maksain diri untuk beli merek tertentu, misalnya yang merek Candy atau sebut aja merek hits lainnya.

Saya saat itu beli di toko yang kami lewati di perjalanan menuju bandara. Nama tokonya Pempek Tasya yang terletak di Jalan Pipa Rejo. Toko pempek ini cukup ramai dengan etalase transparan yang berisi aneka jenis pempek. Buat saya, pempek yang di-display sedemikian rupa membuat saya ngiler dan pingin cepet2 bungkus pempeknya di kardus dan dibawa pulang, haha. Liat aja deh di foto ini kalau nggak percaya.



daftar harga Pempek Tasya
Oya, harga Pempek Tasya ini menurut saya sudah murah meriah. Saya akhirnya membeli paket A dengan harga Rp75.000,- dengan isi 30 pempek aneka macam. Setelah saya goreng dan nikmati semuanya, saya sangat suka dengan Pempek Tasya ini. Cukonya mantab betul, pempeknya juga kerasa banget ikannya, ukuran pempeknya juga gede-gede. haha. Kesimpulan: Pempek Tasya sangat saya rekomendasikan untuk yang ingin cari pempek enak, murah meriah, dan dekat dari Bandara Palembang.

Begitu aja ya cerita saya di Palembang. Semoga bisa memberikan gambaran buat para karyawan yang kebetulan main di Palembang. InsyaAllah dalam waktu beberapa jam kita bisa tetap menikmati landmark penting di Kota Pempek ini.

Your travel buddy,
www.travelndate.com

You May Also Like

0 comments

InsyaAllah saya selalu berkunjung ke blog para pengunjung yang sudah meninggalkan komentar di blog saya. Tapi tolong jangan sebar link hidup di komentar ya karena auto click spam ^^

Follow me on Instagram: @susiencuss_