Belajar Sejarah Semudah Jalan Kaki Di Keraton Yogyakarta

21 komentar

Minggu pagi, setelah menginap dengan kamar tidur yang empuk dan nyaman di malam hari, kami menikmati sarapan di Hotel Grand Senopati Maliboro yang terletak tak jauh dari Taman Pintar Yogyakarta. Kami lalu memasuki mobil dan siap menjelajahi salah satu arsitektur istana Jawa terbaik di Indonesia yaitu Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat.

Area parkir di sekitar istana tidak terlalu luas, kami parkir di pinggir jalan setelah berputar 2 kali. Tepat di seberang kami, banyak sekali pedagang yang menjual souvenir khas istana dan khas kota Yogya. Sungguh sebuah godaan yang nyata bagi para wisatawan.

Sebelum masuk, saya menuju area kecil di samping pintu masuk keraton yang menjadi lokasi registrasi pengunjung, baik lokal maupun mancanegara. Setiap pengunjung lokal yang masuk ke Keraton harus membayar Rp 7.500,-, sudah termasuk izin untuk memotret di dalam area Keraton. Bapak yang bertugas di meja registrasi selalu menawarkan jasa guide kepada para pengunjung, tips untuk guide pun tidak ditetapkan... yang justru bikin saya bingung mau ngasih berapa. haha.

Saya kalau ke sebuah lokasi wisata bersejarah gak pernah sama sekali pake guide karena saya pikir itu cuman buang duit (baca: gak punya duit). Tapi lagi-lagi karena ini adalah event istimewa, jadi saya minta ada guide yang bisa menjelaskan ke ibu alias Mamak saya tercinta soal Keraton Yogyakarta dan sejarahnya. Pertimbangan lain adalah guide-nya kan pasti ngomongnya campur-campur pakai bahasa jawa, jadi bisa buat temen ngobrol ibuk saya yang nampak bahagia kalau lagi ngobrol bahasa jawa halus gitu, hehe.

Guide yang menemani kami mengelilingi Keraton adalah seorang ibu setengah baya yang berpakaian khas abdi dalem keraton. Di setiap meter kami berjalan ibu guide ini menjelaskan panjang lebar bagaimana sejarahnya.

Pertama-tama kami melihat gedung kuning di sebelah kanan agak belakang balairung istana, yang ternyata adalah bangunan tempat tinggal resmi (official residence) Sultan yang bertahta. Ibu guide juga menjelaskan panjang lebar bagaimana sejarah pendirian Bangsal Kencono, bangunan utama di kompleks keraton yogyakarta yang menjadi tempat untuk berbagai upacara keluarga kerajaan dan acara kenegaraan. 


Balairung utama
Kami lalu bergerak ke arah selatan dan berfoto di pintu gerbang yang menghubungkan kompleks kedhaton. Kami lalu berhenti sejenak untuk melihat remaja dan mahasiswa seni yang sedang berlatih tari di bangsal Kasatriyan. Uniknya, semua peserta latihan tari di keraton ini harus sudah berpakaian lengkap dengan kebaya, kain jarik dan sanggul di rambut untuk perempuan. Ibu guide juga menjelaskan kalau kebaya, kain dan sanggulnya tidak boleh sembarangan alias harus mengikuti aturan. Saya nggak ingat aturannya apa saja karena banyak dan istilahnya bikin saya mumet. haha. 



Setelah 10 menit menikmati tarian dan alunan musik dari gamelan, kami kembali menyusuri komplek istana dan memasuki sebuah bangunan yang menjadi museum. Di dalam ruangan itu kami melihat foto anak-anak sri sultan dan juga foto Sri Sultan Hamengkubuwono IX dari anak-anak hingga dewasa. Di ruangan sebelahnya kita juga bisa melihat pohon keluarga dari semua keturunan Sri Sultan HB I. uniknya, di bawah setiap pohon keluarga ada gambar hewan yang berbeda-beda. kata Ibu guide, gambar/lukisan hewan itu disesuaikan dengan favorit para sultan.

Kami lalu kembali berjalan ke ruangan lain yang isinya adalah barang-barang milik istana dari berbagai macam negara. Sebut saja alat makan, lampu, jam dinding, dan banyak sekali benda-benda lain. Kami menutup perjalanan saat itu dengan berfoto dengan abdi dalem Keraton Yogyakarta. 

 





Mengelilingi Keraton Yogyakarta dengan bantuan guide ternyata memberikan sensasi yang berbeda dibandingkan dengan jalan-jalan sendirian. Kita bisa bertanya apapun kepada guide yang menyertai kita dan she knows almost everything about Sri Sultan dan pernak-pernik Keraton Yogya. Buat teman-teman yang berwisata di Keraton Yogyakarta bersama pasangan atau keluarga, saya sangat merekomendasikan untuk menggunakan jasa guide agar perjalanannya lebih bermakna dan bisa jadi menumbuhkan rasa cinta pada tanah air. hehe

Ini foto ibu saya yang lagi ngobrol dengan ibu guide sebelum kami pulang dan istirahat siang di hotel.


susie ncuss
a Devoted Wife who is addicted to Traveling, Halal Food, and Good Movies.
Contact
Email: emailnyancuss@gmail.com
Click http://bit.ly/travelndate to chat me via whatsapp

Related Posts

21 komentar

  1. seneng yah bisa jalan - jalan sambil belajar sejarah juga

    BalasHapus
  2. Terakhir ke Yogyakarta pas honeymoon 2015 tapi nggak sempet mampir ke dalem huhu, nanti pengen pake guide klo kesana😊

    BalasHapus
    Balasan
    1. gak bakal nyesel teh kalau sama guide ^^

      Hapus
  3. Aku kalo ke Keraton gak pernah pake guide, nanti lagi harus coba dengan guide biar sambil belajar.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya teh uwien, daripada bengong aja waktu liat barang-barang sejarah. ibu/bapak guide bakalan bantu jelasin, hehe

      Hapus
  4. wah aku belum kesampean kesini nih, semoga tahun depan ada kesempatan mengunjungi tempat ini

    BalasHapus
  5. Mau juga ke Jogja belajar sejarah

    BalasHapus
  6. Ibunya tampak seneng banget jalan-jalan ke keraton yogya, keliatan sumringah, terakhir ke Keraton Yogya saat masih kuliah, jadi pengen ke sana lagi

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, teh rani.
      ekspresi di wajah ibuk yang bikin aku semangat buat bawa beliau jalan2 lagi. hehehe.

      Hapus
  7. Keraton Yogya memang selalu jadi favorit. Aku masih penasaran dengan dapurnya, pengen lihat koki istana masak xD

    BalasHapus
    Balasan
    1. wah emang bisa liat koki istana masak ya?
      aku baru tau dong, teh...
      *segera searching

      Hapus
  8. Iya ya..dulu saya kesini hanya sekedar selfi selfi aja xixixi..Sedikit belajar sejarah juga sih tapi ga banyak :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. yuk teh bareng guide keliling keraton :D

      Hapus
  9. Waah senengnya bisa bahagiain ibu. ❤️ Teh, tth istri wicakz bukan? Kyknya wajah suaminya familiar 🤔

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, teh. saya istrinya wicak, hehehehe.

      Hapus
  10. Kenapa tiap kali ke Yogya aku kelupaan mulu mau kesini, waktu itu pernah juga pas barengan temen kantor lama malah tutup hiks belum rejekinya, hehe semoga kalo ada kesempatan bisa ke Keraton :D

    BalasHapus
  11. Terakhir masuk keraton waktu jaman saya masih sma, pengen deh ajak anak ke sinu

    BalasHapus
  12. Waaah asyik bgt teh me jogja sm keluarga. Aku sm tmn sekolah dan kantor trus hee

    BalasHapus

Posting Komentar

Follow by Email