Cerita Mudik 2019: Roadtrip Bandung-Lampung-Bandung

by - 9:30 AM

Wah, ternyata saya lupa posting pengalaman mudik saya tahun ini dari Bandung-Lampung-Bandung! Langsung aja disimak baik-baik ya, semoga bermanfaat buat yang punya rencana touring atau main atau mudik ke Lampung dari Bandung menggunakan mobil pribadi.

...

Saya mudik terakhir kali adalah 2 tahun lalu yaitu tahun 2017. Untuk beberapa orang, saya mungkin seperti anak durhaka yang nggak balik-balik, padahal jarak Bandung ke Lampung nggak sampai 12 jam. hehe


Namun seperti normalnya keluarga yang anggotanya keluar dari kampung halaman untuk merantau, saya dan keluarga saya memang jarang banget ketemu dengan lengkap. Ibu saya tentu merindukan anak-anaknya, tapi ibu saya adalah orang paling tidak egois di muka bumi sehingga ia selalu mengikhlaskan ketika saya menyampaikan tidak bisa mudik dengan alasan lebarannya gantian dengan keluarga suami saya. Memang begitu kan jika kita sudah memiliki keluarga sendiri di kota lain.

Saya bahkan lupa kapan terakhir kali kami (saya, kakak dan adik2 saya) pulang dan menghabiskan waktu bersama-sama di rumah orang tua kami di Lampung. Sebagai gambaran, adik bungsu saya ada di Palembang, adik perempuan saya di Kalimantan kemudian balik lagi nemenin ibu saya di Lampung, dan kakak sulung saya masih stay di Kab. Penajam Paser Utara, Provinsi Kalimantan Timur (mungkin banyak di antara teman-teman yang belum pernah dengar nama kabupaten itu, haha). Karena itulah, merupakan sebuah keajaiban jika semua anggota keluarga saya hadir di satu hari yang sama. Dan hingga kini kami belum tau kapan keajaiban itu akan terjadi. We just do what we can do.

Tahun lalu saya nggak mudik ke Lampung karena saya berambisi mengajak ibu saya untuk "mudik" ke Yogyakarta selama 5 hari karena itulah sebagian uang THR ditabung buat mudik ke sana. Ibu saya ini keturunan Jawa, bisa bahasa jawa kasar sampai halus. Tapi beliau lahir, besar, menikah, membesarkan anak di Lampung, seperti kebanyakan Pujakesuma (Putra Jawa Keturunan Sumatera) lainnya. Tidak seperti sebagian orang lain yang beruntung bisa mengunjungi tanah Jawa sebenarnya (Jawa Tengah, Yogyakarta dan Jawa Timur, hehe), ibu saya menghabiskan lebih dari setengah abad hidupnya di ujung timur Pulau Sumatera. Karena itulah saya sangat termotivasi agar ibu saya juga bisa "mudik" ke Jawa: menjejak kaki di tanah nenek buyut, pejuang transmigrasi di era Pak Soeharto.

Cerita seru mudik ibu saya bisa dibaca di sini:
Mamak main di Candi Prambanan

Saya dan suami berangkat dari Bandung di lebaran hari kedua yaitu tanggal 6 Juni 2019, sekitar jam 6 pagi. Kami tidak punya target harus sampai di rumah orang tua saya jam berapa, jadi kami berangkat dengan santai dari rumah.

Yang kami bawa rada banyak yaitu
  1. Barang-barang yang akan kami berikan ke ibu saya yang merupakan 85% dari total barang yang kami bawa, karena kami bawa TV segala, haha.
  2. 1 tas berisi baju suami dan saya
  3. totebag isi bekal makanan untuk sarapan dan makan siang
  4. totebag isi skincare, peralatan mandi, dll

Barang-barang itu baru dimasukkan ke mobil malam hari tadi. Baju-baju saya dan suami juga baru disiapkan tadi malam sebelum tidur, hehe.

Kami masuk tol Soroja dari Gerbang Tol Kutawaringin (dekat Stadion Jalak Harupat) dan melaju di jalan tol yang sepi. Kami istirahat di KM77 untuk ke toilet dan sarapan karena kami belum makan sama sekali. Kami parkir di depan masjid dan mulai buka-buka bekal makanan yang udah dibawa. Bekal makanannya cuman ada nasi, rendang, opor ayam dan bawang goreng :v

Waktu kami lagi sarapan, ternyata mobil yang lagi parkir di samping kami juga sama-sama lagi sarapan. Kayaknya bapak dan ibu itu juga lagi mudik kayak kita. Waktu kami udah beres sarapan pun ada beberapa mobil lain yang baru masuk ke parkiran yang kemungkinan besar juga lagi otw mudik juga sama kayak kita.

Kami melanjutkan perjalanan dan sampai di rest area KM43 Tangerang pukul 09.10 WIB. Di situ kami beli popmie, ke toilet, dan beli minuman karena air minum 2 botol yang kami bawa sudah menunjukkan tanda-tanda kalau airnya nggak bakal cukup sampai ke Lampung.

Jam setengah 11 kami sudah keluar dari Gerbang Tol Merak dan langsung melaju ke area pelabuhan. Nah, di Pelabuhan Merak dan Bakauheni sudah ada Dermaga eksekutif atau Ferry Express.


Di Selat Sunda

Perbedaan dermaga eksekutif ini dengan dermaga reguler lainnya adalah
  1. Tempat pembelian tiket lebih mewah, mirip front office di bank
  2. Executive lounge yang nyaman untuk menunggu kapal
  3. Dari dermaga untuk masuk ke dalam kapal juga ada jembatan khususnya yang bentuknya mirip garbarata di bandara :D
  4. Durasi perjalanan menyeberangi Selat Sunda hanya 1 jam, kalau ferry biasa menyeberang bisa 2-3 jam, tergantung kondisi ombak :D
  5. Harga tiket kapal eksekutif ini adalah 50 ribu untuk dewasa dan 34 ribu untuk anak-anak.
  6. Kalau harga masuk untuk mobil (golongan IV) penumpang adalah Rp579.000 sedangkan harga masuk untuk mobil di Dermaga reguler adalah Rp374.000,-. Jadi ada perbedaan kurang lebih Rp 200rb antara dermaga reguler dan eksekutif.
Karena perbedaan harganya cukup jomplang, kami lebih memilih dermaga reguler saja, hehe. Kami masuk ke dalam kapal bagian atas bersama dengan mobil toda 4 berpenumpang lainnya. Truk, bus, sepeda motor, dan sebagian mobil lain parkirnya di bagian lambung kapal (di bagian bawah).

Siang itu kapal sangat penuh dengan penumpang, jadi kami duduk di tangga karena gak ada tempat lagi yang teduh dari terik matahari di tengah lautan. Tenang, tangga di kapal yang kami duduki itu lebarnya lebih dari 1 meter dan tidak banyak orang yang lalu lalang di tangga karena kebanyakan memilih makan dan tidur selama perjalanan menuju Pelabuhan Bakauheni. Tapi kalau ada tempat khusus penumpang yang masih bisa dipakai untuk duduk, lebih baik memilih di sana ya... Waktu itu saya dan suami terpaksa duduk di situ karena kapal lagi penuh sama orang2 yang mau mudik :D



Makan Pop Mie is a mandatory!
Kami berada di kapal selama kurang lebih 2,5-3 jam. Kami keluar dari kapal pukul 2 siang dan segera menuju jalan tol Trans Sumatera di sebelah kiri. Jalan tol ini sangat sepi kendaraan jadi kami bisa melaju dengan santai dan tidak macet sama sekali sampai kami keluar dari Gerbang Tol Kota Baru menuju Kota Bandar Lampung. Biaya tol dari Bakauheni sampai ke Gerbang Tol Kota Baru adalah Rp 63.000,-.

Tapi saat itu ada kejadian tidak mengenakkan terjadi di Gerbang Tol yang masih baru itu, yaitu kartu tol kami di-tap dua kali!!!

  • Pertama oleh orang yang ditugaskan untuk membantu mengetap e-toll dengan membawa alat ke mobil2, tapi katanya saldonya nggak cukup. padahal sebelum masuk tol, kita udah ngecek kalau saldo e-toll kami 170 ribu. Kami protes dong.. kemudian kami diminta buat ngetap di loket aja.
  • Waktu kami ngetap di loket, beneran bisa dan eng ing eng... saldo kartu kami tinggal 50rb. Saat itu kami loadingnya rada lama ya, kok saldonya cuman 50rb bukannya waktu di awal saldonya ada 170rb dan biaya tol cuman 60rb-an. Fix kartu etoll kita ke-tap dua kali dan kami nggak bisa puter balik mobil karena udah terlanjur keluar dari gerbang tol itu. Kzl!
Meski dalam kondisi kesal, perjalanan tetap kami lanjutkan. Kami menyusuri jalan menuju Kabupaten Pringsewu, tempat saya lahir dan besar, dari Kota Bandar Lampung dengen mengikuti petunjuk di google maps. Perjalanan lancar tanpa ada hambatan berarti, kami hanya agak bingung ketika melihat jembatan layang di sana-sini, hehe. Namun perjalanan mudik ini terhambat macet di daerah Kabupaten Pesawaran. Mobil kami berjalan seperti siput selama kurang lebih 2 jam di sana sampai mendekati Pasar Gedongtataan. Harapan ingin sampai di rumah jam 4 sore sirna dari pandangan mata, hahaha.

Kami sampai di rumah, tepatnya di Kelurahan Pringsewu Barat, Kabupaten Pringsewu sesaat setelah adzan maghrib. Kami langsung membongkar semua muatan dari mobil, langsung bersih-bersih, dan makan malam. Malam itu kami menghabiskan waktu untuk unboxing semua kado dan hadiah buat ibu dan keluarga di Pringsewu.



Hari kedua kami tidak kemana-mana. Suami saya total istirahat di rumah karena capek nyetir seharian sebelumnya, saya sendiri bantu-bantu ibu buat masak di dapur.
Hari ketiga kami mengunjungi saudara di Kecamatan Gisting, Kabupaten Tanggamus. Gisting ini seperti daerah Puncaknya Bogor atau Lembangnya Bandung: dingiinn... karena berada di kaki gunung erapi Tanggamus yang berstatus aktif hingga saat ini.
Hari keempat, kami kembali nggak ngapa-ngapain kecuali di rumah saja.
Hari kelima dan keenam, kami membawa ibu, adik dan dua keponakan saya untuk mengunjungi saudara dari pihak suami yang tinggal di Kecamatan Tanjungkarang, Kota Bandar Lampung. 






Kami menginap di salah satu hotel yang cukup modern di pusat kota. Maklum, ibu saya juga nggak pernah menginap di hotel manapun di Lampung, padahal anaknya sok-sokan staycation di hotel ini itu --". Kami sekeluarga di sana main di Trans Studio Mini, ngajak ibu belanja di mall, makan pizza di salah satu franchise terkenal, lalu leyeh-leyeh di hotel saja.

Pokoknya waktu mudik tujuan saya cuman satu: memberikan pengalaman yang berbeda kepada ibu saya.






Siang hari kami pulang ke Pringsewu. Setelah itu habis maghrib, saya dan suami kembali memacu kendaraan menuju Kota Bandar Lampung. Kenapa? karena kami pulang ke Bandung di pagi hari ketujuh. Kami ingin sampai di pelabuhan pagi-pagi sehingga kami memutuskan untuk menginap di salah satu hotel budget di Kota Bandar Lampung.

Hari ketujuh atau hari Kamis setelah sholat subuh, saya dan suami check out dari hotel dan segera berangkat Pelabuhan Bakauheni untuk menyeberangi Selat Sunda dan menuju rumah kami di Bandung. Rutenya sama saja dengan ketika kami berangkat, begitu juga dengan biaya yang kami keluarkan. 


Biaya yang kami keluarkan untuk transportasi mudik dari Bandung-Lampung-Bandung
Bensin, Tol dan Tiket masuk kapal
Bensin Rp350.000,- (bolak-balik)
Kapal 2 x Rp374.000,- = Rp748.000,-
Tol dari Bandung sampai Lampung Rp300.000,- (bolak-balik)
Subtotal bensin dkk= Rp1.398.000,-

Hotel
Hotel 2 x Rp390.000,- (2 kamar)= Rp780.000,-

Total Bensin dkk+Hotel : Rp2.178.000,-

Note: Biaya makanan tidak saya tulis karena akan sangat bervariasi tergantung masing-masing keluarga. hehe

Kalau naik angkutan umum, biayanya berapa?


Mari kita bandingkan biayanya dengan ketika kami mudik menggunakan transportasi umum yaitu Bus DAMRI Royal Class. Bus DAMRI tipe ini adalah satu-satunya yang jurusannya sampai ke Pringsewu, kampung halaman saya. 

Sebagai informasi, Harga tiket Bus DAMRI ini SAAT LEBARAN kira-kira sekitar Rp370.000,- atau hampir 400rb.

Karena itu, kalau kami berdua beli tiket bus DAMRI untuk perjalanan pulang-pergi dari Bandung ke Pringsewu vice versa, kami harus mengeluarkan dana Rp1.480.000-Rp1.600.000,-.


Kesimpulan
Mudik dari Bandung ke Lampung dan sebaliknya menggunakan mobil worth it untuk jadi alternatif dibandingkan dengan menggunakan transportasi umum. Selain hemat biaya, kita juga dapat bonus bisa mengajak jalan-jalan keluarga di kampung halaman.

You May Also Like

0 comments

InsyaAllah saya selalu berkunjung ke blog para pengunjung yang sudah meninggalkan komentar di blog saya. Tapi tolong jangan sebar link hidup di komentar ya karena auto click spam ^^

Follow me on Instagram: @susiencuss_